Ilmu Alamiah Dasar
BIOLOGI DAN PERKEMBANGAN ILMU
DARI SUDUT ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN MODERN
KELOMPOK : 4
PERBANDINGAN KELOMPOK 6
NAMA : VALIAS THATIUNUS
: LAILATUL KADRIAH
: SALMINA
: RAHMAYANI
UNIT : I
SEMESTER : III
PRODI : HES
MATA
KULIAH : ILMU ALAMIAH DASAR
DOSEN
PEMBIMBING : ISRAFUDDIN,
M.Pd

PERGURUAN
TINGGI ISLAM ILMU SYARIAH PTI AL-HILAL SIGLI TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Ilmu Alamiah Dasar dan perkembangan dari sudut islam dan ilmu pengetahuan modern
Adapun makalah Ilmu Alamiah Dasar dan perkembangan dari sudut islam dan ilmu pengetahuan modern ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ilmu alamiah dasar ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah Ilmu Alamiah Dasar dan perkembangan dari sudut islam dan ilmu pengetahuan modern ini kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.
DAFTAR ISI
HALAMAN
KATA
PENGANTAR ……………………………………………………..1
DAFTAR
ISI ………………………………………………………..……..2
BAB
I…………………………………………………………………….....3
1.1.
PENDAHULUAN …………………………………………………….3
1.2.
LATAR BELAKANG ………………………………………………...3
1.3.
RUMUSAN MASALAH ……………………………………………..4
BAB
II………………………………………………………………………6
2.1.
TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………6
2.2. BIOLOGI
PANDANGAN ISLAM …………………………………..6
BAB
III………………………………………………………...……………7
3.1. KESIMPULAN…………………………………………………….…..7
3.2. SARAN………………………………………………………………....7
3.3. DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………….….8
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Pada zaman dahulu kala,
terutama zaman Yunani, orang lebih banyak mempelajari filsafat. Dari filsafat
ini, selanjutnya berkembang adanya filsafat alam dan filsafat moral. Filsafat
alam mempunyai turunan ilmu-ilmu alam (the natural sciences), sedangkan filsafat
moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial (the social sciences). Ilmu-ilmu alam
ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni ilmu abiotik/non hayati (the physical
science) dan ilmu hayat (the biological science). Ilmu hayat inilah yang biasa
disebut dengan nama biologi. Biologi dimaksudkan sebagai ilmu yang mempelajari
makhluk hidup. Hal ini sesuai,dengan asal kata biologi dari bahasa Yunani,
yakni bios yang berarti ‘hidup’ dan logos yang berarti ‘ilmu’.
Biologi terus berkembang seiring penelitian dan penemuan-penemuan baru. Terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, contohnya adalah perkembangan mikroskop. Ketika mikroskop pertama kali ditemukan, kemampuannya untuk melihat objek-objek mikroskopis masih sangat terbatas. Kemudian berkembang mikroskop seperti yang umum kita gunakan saat ini yang disebut sebagai mikroskop cahaya karena sumber sinarnya adalah cahaya.
Biologi terus berkembang seiring penelitian dan penemuan-penemuan baru. Terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, contohnya adalah perkembangan mikroskop. Ketika mikroskop pertama kali ditemukan, kemampuannya untuk melihat objek-objek mikroskopis masih sangat terbatas. Kemudian berkembang mikroskop seperti yang umum kita gunakan saat ini yang disebut sebagai mikroskop cahaya karena sumber sinarnya adalah cahaya.
Setelah itu, berkembang pula
mikroskop elektron, yaitu mikroskop yang sumber sinarnya adalah elektron,
sehingga pengamatan dengan mikroskop ini dapat dilakukan dengan lebih detail
dibandingkan dengan mikroskop cahaya. Dengan dukungan teknologi lain, kajian
bio logi pun mengalami perkembangan, sehingga muncullah penemuan-penemuan baru
seperti dalam biologi molekuler, dan bioteknologi.
Akibat perkembangan teknologi
yang semakin pesat, saat ini biologi sudah merambah pada hal-hal yang dulunya
tidak mungkin dilakukan. Biologi akan selalu berkembang sesuai dengan
perkembangan kehidupan manusia dan teknologi.
Rumusan Masalah
1. Dari mana asal mula biologi
?
2. Bagaimana didirikannya
biologi modern berdasarkan islam ?
3. Bagaimana perkembangan ilmu
biologi berdasarkan islam ?
4. Seperti apa anjuran
Al-Qur’an tentang biologi ?
Tujuan
1. Untuk menambah pengetahuan, wawasan
kita dalam bidang biologi yang ditinjau dari ilmu pengetahuan modern.
2.Untuk membahas asal-usul kehidupan yang
diungkapkan melalui teori-teori asal-usul kehidupan oleh para ilmuwan.
3.Mengetahui apa perbedaan makhluk hidup
dengan benda mati serta faktor-faktor perkembangan dan variabilitas makhluk
hidup.
4.Mengetahui pengertian dan perkembangan
bioteknologi beserta dengan jenis-jenisnya.
BAB II
PEMBAHASAN
Berbagai cabang biologi
mengkhususkan diri pada setiap kelompok organisme, seperti botani (ilmu tentang
tumbuhan), zologi (ilmu tentang hewan), dan mikrobiologi (ilmu tentang jasad
renik). Perbedaan-perbedaan dan pengelompokan berdasarkan ciri-ciri fisik
kelompok organisme dipelajari dalam sistematika, yang di dalamnya mencakup pula
taksonomi dan paleobiologi.
Berbagai aspek kehidupan dikaji
pula dalam biologi. Ciri-ciri fisik bagian tubuh dipelajari dalam anatomi dan
morfologi, sementara fungsinya dipelajari dalam fisiologi. Perilaku hewan
dipelajari dalam etologi. Perkembangan ciri fisik makhluk hidup dalam kurun
waktu panjang dipelajari dalam evolusi, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan
dalam siklus kehidupan dipelajari dalam biologi perkembangan. Interaksi antar sesama
makhluk dan dengan alam sekitar mereka dipelajari dalam ekologi; Mekanisme
pewarisan sifat yang berguna dalam upaya menjaga kelangsungan hidup suatu jenis
makhluk hidup dipelajari dalam genetika.
Saat ini bahkan berkembang
aspek biologi yang mengkaji kemungkinan berevolusinya makhluk hidup pada masa
yang akan datang, juga kemungkinan adanya makhluk hidup di planet-planet selain
bumi, yaitu astrobiologi. Sementara itu, perkembangan teknologi memungkinkan
pengkajian pada tingkat molekul penyusun organisme melalui biologi molekular
serta biokimia, yang banyak didukung oleh perkembangan teknik komputasi melalui
bidang bioinformatika.
Ilmu biologi banyak berkembang
pada abad ke-19, dengan ilmuwan menemukan bahwa organisme memiliki
karakteristik pokok. Biologi kini merupakan subyek pelajaran sekolah dan
universitas di seluruh dunia, dengan lebih dari jutaan
Asal mula biologi
Aristoteles dan biologi
Ilmu biologi dirintis oleh
Aristoteles, ilmuwan berkebangsaan Yunani. Dalam terminologi Aristoteles,
“filosofi alam” adalah cabang filosofi yang meneliti fenomena alam, dan
mencakupi bidang yang kini disebut sebagai fisika, biologi, dan ilmu pengetahuan alam
lainnya.
Aristoteles melakukan
penelitian sejarah alam di pulau Lesbos. Hasil penelitiannya, termasuk Sejarah Hewan, Generasi Hewan, danBagian Hewan, berisi beberapa observasi dan interpretasi, dan juga terdapat
mitos dan kesalahan. Bagian yang penting adalah mengenai kehidupan laut. Ia
memisahkan mamalia laut dari ikan, dan mengetahui bahwa hiu dan pari adalah
bagian dari grup yang ia sebut Selachē (selachians).
Didirikannya biologi
modern
Istilah biologi dalam
pengertian modern kelihatannya diperkenalkan secara terpisah oleh Gottfried
Reinhold Treviranus (Biologie oder
Philosophie der lebenden Natur, 1802) dan Jean-Baptiste Lamarck (Hydrogéologie, 1802). Namun, istilah biologi sebenarnya telah dipakai pada 1800
oleh Karl Friedrich Burdach. Bahkan, sebelumnya, istilah itu juga telah muncul
dalam judul buku Michael Christoph Hanov jilid ke-3 yang terbit pada 1766,
yaitu Philosophiae
Naturalis Sive Physicae Dogmaticae: Geologia, Biologia, Phytologia Generais et
Dendrologia.
Daftar ilmu-ilmu hayati
Pada masa kini, biologi
mencakup bidang akademik yang sangat luas, bersentuhan dengan bidang-bidang
sains yang lain, dan sering kali dipandang sebagai ilmu yang mandiri. Namun,
pencabangan biologi selalu mengikuti tiga dimensi yang saling tegak lurus:keanekaragaman (berdasarkan kelompok organisme), organisasi
kehidupan (taraf kajian dari sistem kehidupan), dan interaksi(hubungan antarunit kehidupan serta antara unit kehidupan dengan
lingkungannya).
Pembagian Berdasarkan
Kelompok Organisme
Makhluk hidup atau organisme
sangat beraneka ragam. Taksonomi mempelajari bagaimana organisme dapat
dikelompokkan berdasarkan kemiripan dan perbedaan yang dimiliki. Selanjutnya,
berbagai kelompok itu dipelajari semua gatra kehidupannya, sehingga dikenallah
ilmu biologi tumbuhan (botani), biologi hewan (zoologi), biologi serangga
(entomologi), dan seterusnya.
Pembagian berdasarkan
organisasi kehidupan
Kehidupan berlangsung dalam
hirarki yang terorganisasi. Hirarki organisme, dari yang terkecil hingga yang
terbesar yang dipelajari dalam biologi, adalah sebagai berikut:
·
sel;
·
jaringan;
·
organ;
·
sistem organ;
·
individu;
·
populasi;
·
komunitas atau masyarakat;
·
ekosistem; dan
·
bioma.
Kajian-kajian subindividu
mencakup biologi sel, anatomi dan cabang-cabangnya (sitologi, histologi dan
organologi), dan fisiologi. Pembagian lebih rinci juga mungkin terjadi.
Misalnya, anatomi dapat dikhususkan pada setiap organ atau sistem (biasa
terjadi dalam ilmu kedokteran): pulmonologi, kardiologi, neurologi, dan
sebagainya).
Tingkat supraindividu
dipelajari dalam ekologi, yang juga memiliki pengkhususan tersendiri, seperti
ekofisiologi atau “fisiologi lingkungan”, fenologi, serta ilmu perilaku.
Pembagian berdasarkan
interaksi
Hubungan antarunit kehidupan
maupun antara unit kehidupan dan lingkungannya terjadi pada semua tingkat
organisasi. Selain mempelajari kehidupan melalui berbagai tingkatan di atas,
biologi juga mempelajari hal-hal berikut, melalui cabang ilmunya masing-masing:
·
biologi perkembangan (developmental biology): ilmu yang mempelajari tahap perkembangan makhluk hidup
(ontogeni) dari telur yang dibuahi menjadi individu;
·
genetika: ilmu yang mempelajari
pewarisan keturunan;
·
etologi: ilmu yang mempelajari
perilaku makhluk hidup;
·
sistematika: ilmu yang
mempelajari keanekaragaman organisme dan hubungannya dengan relasi tertentu;
·
ekologi: ilmu yang mempelajari
habitat dan interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya;
·
evolusi: ilmu yang mempelajari
perubahan yang terjadi pada makhluk hidup; dan
·
ksenobiologi: ilmu pengetahuan
spekulatif tentang adanya makhluk hidup selain di bumi.
·
mikologi : ilmu yang
mempelajari mengenai cendawan/ jamur
mikrobiologi : ilmu yang
mempelajari makhluk-makhluk mikroskopis
bahkan terdapat sub ilmu
biologi yang berkaitan dengan ilmu lain seperti biokimia dan biofisik, dimana
ilmu biologi dilihat dari sudut pandang kimia dan fisika.
Perkembangan Ilmu
Biologi Pandangan Islam
Ilmu pengetahuan (sains) adalah teori-teori yang dikumpulkan manusia melalui suatu proses
pengajian dan dapat diterima oleh rasio. Dalam pengumpulan data dan berbagai
observasi dan pengukuran pada gejala alamiyah itu dianalisis, kemudian diambil
kesimpulan. Inilah yang diberi istilah intizhar suatu kajian yang ada
hubungannya dengan nazhar, yang bunyi dan artinya dekat dengan nalar. Ciri khas
dan sains natural, ialah disusun atas dasar intizhar terhadap gejala-gejala
alamiyah yang dapat di teliti ulang oleh orang lain, dan merupakan hasil
konsensus masyarakat ilmuan yang bersangkutan.
Bila ditelusuri ayat-ayat
Alquran, akan dijumpai 854 kali kata „ilmu disebut dalam berbagai bentuk dan
arti. Antara lain sebagai proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.
Semua ilmu pengetahuan kealaman berkembang secara induktif dan intizhar, maka
dengan semakin dewasanya sains natural itu sendini dan matematika, ia dapat
berkembang secara deduktif. Dengan matematika dapat dirumuskan model-model alam
atau gejala alamiyah yang sifat dan kelakuannya dapat dijabarkan secara
matematis. Namun dari sekian banyak model yang dapat direkayasa, hanya mereka yang
konsekuensinya sesuai dengan gejala alamiyah yang teramatilah yang dapat
diterima oleh masyarakat ilmuan yang bersangkutan.
Intizhar akan melahirkan
teori-teori baru, kemudian menghasilkan teknologi sebagai penerapan sains
secara sistematis untuk mengubah/ rnempengaruhi alam rnateri di sekeliling kita
dalam suatu proses produktif ekonomis untuk menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat bagi umat manusia. Teknologi pembuatan mesin, pembuatan obat-obatan,
pembuatan beraneka ragam bahan, termasuk bahan makanan, dan sebagainya adalah
hasil penerapan ilmu fisika, kimia, biologi, dan lain-lain ilmu kealaman yang
sesuai.
Aya-ayat Alquran tidak satu pun
yang menentang ilmu pengetahuan, tetapi sebaliknya banyak ayat-ayat Alquran
menghasung dan menekankan kepentingan ilmu pengetahuan. Bahkan salah satu
pembuktian tentang kebenaran Alquran adalah ilmu pengetahuan dan berbagai
disiplin yang diisyaratkan. Memang terbukti, bahwa sekian banyak ayat-ayat
Alquran yang berbicara tentang hakikat-hakikat ilmiyah yang tidak dikenal pada
masa turunnya, namun terbukti kebenarannya di tengah-tengah perkembangan ilmu,
seperti: (a) Teori tentang expanding
universe (kosmos mengembang), QS: 51: 47), (b) Matahari
adalah planet yang bercahaya sedangkan bulan adalah pantulan cahaya matahari. (QS:
10 5), Bumi bergerak mengelilingi matahari …(QS: 27: 88), (c) Zat hijau daun
(klorofil) yang berperan dalam mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga
kimia melalui proses fotosintesis sehingga menghasilkan energi (QS: 36: so).
Bahkan, istilah Al-Quran al-syajar al-akhdhar (pohon yang hijau) justru lebih tepat dan istilah klorofil (hijau
daun), karena zat tersebut bukan hanya terdapat dalam daun, tetapi di semua
bagian pohon, dan (d) Bahwa manusia diciptakan dari sebagian kecil sperma pria
dan setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di dinding rahim (QS:86: 6 dan 7;
96: 2).
Banyak lagi yang lain tidak
mungkin dikemukakan satu persatu, sehingga tepat sekali kesimpulan yang
dikemukakan Dr. Murice Bucaille, bahwa tidak satu ayat pun dalam Alquran yang
bertentangan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Salah seorang tokoh pembaharuan
dalam Islam, Muhammad Abduh mengatakan, Islam adalah agama yang rasional, agama
yang Sejalan dengan akal, bahkan agama didasarkan atas akal. Pemikiran rasional
merupakan dasar pertama dari dasar-dasar Islam yang lain. Pemikiran rasional
menurutnya adalah jalan untuk memperoleh iman sejati. Iman, tidaklah sempurna,
kalau tidak didasarkan atas akal.
Alquran antara lain
menganjurkan untuk mengamati alam raya, melakukan eksperimen dan menggunakan
akal untuk memahami fenomenanya, yang dalam hal ini ditemukan persamaannya
dengan para ilmuan, namun di lain segi terdapat pula perbedaan yang sangat
berarti antara pandangan atau penerapan keduanya. Dibalik alam raya ini ada
Tuhan yang wujud-Nya dirasakan di dalam diri manusia, dan bahwa tanda-tanda
wujud-Nya itu akan diperlihatkan-Nya melalui pengamatan dan penelitian manusia,
sebagai bukti kebenaran Alquran. Hal ini dapat dibuktikan dengan memperhatikan
bagaimana Alquran selalu rnengaitkan perintah-perintah-Nya yang berhubungan
dengan alam raya dengan perintah pengenalan dan pengakuan atas kebesaran dan
kekuasaan-Nya. Bahkan, ilmu dalam pengertian yang umum sekalipun oleh wahyu
pertama Alquran (iqra’), telah dikaitkan dengan bismi rabbika. Ini memberi isyarat bahwa
“ilmu tidak dijadikan untuk kepentingan pribadi, regional, atau nasional,
dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan lainnya‟.
Ilmu pada saat dikaitkan dengan bismi rabbika kata Prof. Dr. „Abdul Halim Mahmud, syaikh Jami‟ Al-Azhar- menjadi
“demi karena Tuhan Pemeliharamu, sehingga harus dapat memberikan manfaat kepada
pemiliknya, warga masyarakat dan bangsanya. Juga kepada manusia secara umum. Ia
harus membawa bahagia dan cahaya keseluruh penjuru dan sepanjang masa.”
Di Italia pernah diadakan suatu
permusyawaratan ilmiyah tentang cultural
relations for the future, yang kesimpulannya antara
lain; Untuk menetralkan pengaruh tenologi yang menghilangkan kepribadian, kita
harus menggali nilai-nilai keagamaan dan spiritual.
Muhammad Iqbal, pernah
mengungkapkan senada dengan pernyataan di atas, ketika ia menyadari dampak
negatif perkembangan ilmu dan teknologi. Katanya; kemanusiaan saat ini
membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spritual atas alam raya, emansipasi
spritual atas individu, dan satu himpunan asas yang dianut secara universal
yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritual.
Sungguhpun ungkapan ini lebih dahulu dan pertemuan di Italia tersebut, namun
tujuannya sama yakni pentingnya nilai-nilai agama untuk pengendalian diri dan
pengaruh negatif yang timbul dan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Allah dalam ayat-ayat-Nya,
disamping menggambarkan bahwa alam raya dan seluruh isinya adalah intelligible,
sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal dan daya fikir manusia, juga
rnenjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada dialam raya ini telah dimudahkan
untuk dimanfaatkan manusia. Dengan demikian, ayat ini dan ayat lain yang senada
dengan ini, memberi tekanan yang sama pada sasaran ganda: tafakkur yang
menghasilkan sains, dan tasykhir menghasilkan teknologi guna kemudahan dan
kemanfantan manusia. Ini memberi isyarat, bahwa Alquran membenarkan bahkan
mewajibkan usaha-usaha pengembangan ilmu dan teknologi, selama ia membawa
manfaat untuk menusia serta memberi kemudahan bagi mereka. “Tuhan menginginkan
kemudahan untuk kamu dam tidak menginginkan kesukaran”. Dan Tuhan “tidak ingin
menjadikan sedikit kesulitan pun untuk kamu.” Ini berarti bahwa segala produk
perkembangan ilmu dan teknologi dibenarkan oleh Alquran, selama untuk kemudahan
dan kesejahteraan manusia itu sendiri.
Dalam bidang ilmu
tumbuh-tumbuhan, Ibnu al-Baitar (wafat 1248), ia meninggalkan sebuah risalah
tentang obat-obatan. Ibnu al- Awwan dan Sevilla, telah menulis buku yang
menguraikan 585 jenis tanam-tanaman, dan cara pembiakan, pengolahan, serta
menguraikan gejala-gejala penyakit tanaman lengkap dengan cara
pemberantasannya.
Teori evolusi Darwin
(1804-1872) yang dianggap sebagai penemuan terbesar dan mengagumkan, padahal
„Abdu al-Rahman Ibn Khaldun (1532-1406), lima abad sebelum Darwin, telah
menulis dalam bukunya tentang hal yang sama. Apa yang telah penulis kemukakan
merupakan bukti sikap positif Islam terhadap ilmu pengetahuan. Umat Islam
adalah yang pertama menyatukan seluruh ilrnu pengetahuan warisan kemanusiaan,
kemudian dikembangkan dengan menambah berbagai unsur yang kelak menjadi
benih-benih ilmu pengetahuan moderan seperti aljabar, penemuan lensa tentang
cahaya kimia, dan menciptakan berbagai instrumen teknis seperti alembic (al-anbiq)
untuk distilasi parfum. Oleh karena itu tidak benar penilaian subyektif
beberapa sarjana Barat bahwa kaum muslim dahulu kurang/kekurangan kreatifitas
dan orisinalitas dalam ilrnu pengetahuan. Memang diakui sumbangan kekayaan
falsafah Yunani juga dan yang lain, namun dalam ilmu pengetahuan empiriklah
Islam memberikan kontribusi yang amat menentukan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Biologi perkembangan ialah
studi proses pertumbuhan dan perkembangan organisme. Biologi perkembangan
modern mempelajari kontrol genetik pertumbuhan sel, diferensiasi sel dan morfogenesis, yang merupakan proses yang menimbulkan jaringan, organ dananatomi. Embriologi merupakan subbidang, studi
organisme antara tahap 1 sel (umumnya, zigot) dan akhir tahap embrio, yang takperlu awal kehidupan bebas.
Embriologi awalnya merupakan ilmu yang lebih deskriptif sampai abad
ke-20. Embriologi dan biologi
pengembangan kini menghadapi bermacam-macam langkah yang diperlukan untuk
pembentukan badan organisme hidup yang benar dan
sempurna.
Penemuan biologi perkembangan
dapat membantu memahami malafungsi perkembangan seperti aberasi kromosom, sebagai contoh, Down syndrome. Pengertian spesialisasi sel selama embriogenesis dapat
melindungi informasi pada bagaimana mengkhususkan sel
batang pada jaringan dan organ yang spesifik, yang dapat menimulkan kloning spesifik organ untuk tujuan
medis. Proses penting secara biologis lainnya yang terjadi selama perkembangan
ialah apoptosis – “bunuh diri” sel. Untuk alasan ini, banyak
model pengembangan digunakan untuk menguraikan fisiologi dan dasar molekul proses
selular ini.
Saran
Bagaimanapun canggihnya teknologi
(Bioteknologi) sudah barang tentu dapat memunculkan dampak dalam penerapannya.
Maka dengan mengacu pada pengalaman–pengalaman penerapan teknologi
pendahulunya, dapatlah digunakan bioteknologi ini secara proporsional dengan
memasukkan norma–norma etik secara moral. Etika diperlukan untuk menentukan
arah perkembangan bioteknologi, serta penerapannya secara teknis, sehingga
tujuan yang menyimpang dan destruktif bagi kemanusiaan dapat dihindarkan.
Daftar Pustaka
Baiquni, A, Islam Dan Ilmu
Pengetahuan Modern, penerbit Pustaka, Jakarta, cet. I, 1983.
Arsyad M. Natsir, Ilmuan
Muslim Sepanjang Sejarah, Mizan, Bandung, cet. I, 1989.
Hilmi, Ahmad Kamal al-Din, al-Salajiqah
fi al-Tarikh Wa al-Hadharat, Dar al-Buhus al-Ilmiyah,
Kuwait, 1975.
Hitti, Philip K., The
Arabs A Short History, diterjemahkan oleh Ushuluddin Hutagalung, Dunia
Arab, Sumur Bandung, Bandung, cet. III, t. th.
Mattulada, A, Ilmu-Ilmu
Kemasyaiaan (Humaniora) Tantangan, Harapan-harapan Dalam Pembangunan, UNHAS, 1991

Komentar
Posting Komentar